Aku cemas, bila bahasa ibu punah di ranah bundo...
Kebudayaan adalah jendela. Di tempat mana is melihat betapa luasnya bentangan cakrawala.
Kebudayaan adalah pintu. Di tempat mana ia mengantarkan kita ke berbagai ruang-ruang pikiran yang terlaksana kemudian menjadi sesuatu yang kita sepakati dalam kehidupan sosial dalam segala nilai dan norma.
Sebagian menyerpih menjadi dogma, sebagian menjadi doktrin, sebagian lagi menjadi kebiasaan yang mentradisi.
Kebudayaan adalah sanding kata nan tiga, cipta, rasa dan karsa. Ia ada dan menjadi ada karena manusia adalah 'zoon politicon' yang berotak, berhati dan berakal.
Muara ideal yang dituju adalah "kebijaksanaan" dalam zona kata "bijak" dan "arif". Mengerti dan paham!
Idealnya 'kebudayaan" adalah kecerdasan ilahiyah yang menjadi mesin bagi kecerdasan spiritualitas. Seseorang yang cerdas secara ilahiyah, adatnya pasti tidak akan pernah tunduk pada tekanan yang diberikan oleh lingkungannya yang hendak mengarahkan kepada nilai-nilai yang negatif.
Ia menjadi pemberi warna. Ia mewarnai bukan diwarnai. Ia magnit kehidupan. Itulah idealisme kebudayaan itu sendiri.
Para insan yang berada di dunia pikiran dan lalu melaksanakan pikiran-pikirannya untuk kebajikan, maka ia berada dalam 'kebudayaan' di ruang yang beradab.
Kalau yang ia lahirkan adalah keburukan, kebencian, dendam dan dengki, maka ia secara tak sengaja sedang membunuh kebudayaan. Ruangnya, neraka peradaban.
Para kreator pikiran adalah penghulu kebudayaan. Saya lama meyakini bahwa satu pikiran akan melahirkan berjuta-juta materi, namun berjuta-juta materi belum tentu melahirkan satu gagasan.
Yang penting bagi saya; kebudayaan adalah kenyamanan,kebudayaan adalah kedamaian, kebudayaan adalah kesantunan, kebudayaan adalah jiwa yang merasa senasib seperasaian yang merekat kebersamaan dalam zona saciok bak ayam, sadanciang bak basi .
Kebudayaan adalah kita yang berpikir dan kita yang merasakan. Kita yang berotak dan kita yang berhati.
Maka bila ditanya, siapakah budayawan?
Saya menyebutnya, ialah sosok yang menjadikan dirinya bagian dari solusi bukan bagian dari konflik. Ialah sosok yang memberi 'kemudahan' bagi peradaban dengan berbagai kreasi daya cipta yang ia lakukan.
Bukankah hidup itu adalah pikiran?
Coba lihat di Alquran, berapa kali Tuhan menyuruh kita menggunakan pikiran?
Orang yang tidak menggunakan pikiran, hidupnya akan 'terhukum' dan menderita.Makanya, untuk melepaskan diri dari dunia kemiskinan adalah dengan membuka dan membangun ruang pendidikan. Tak ada orang yang berpikir/cerdas yang hidupnya susah.
Ingat:, “afalâ ta’qilun”, “afalâ tatafakkarun”, “afalâ yatadabbaruna al-Qur’ân”. Allah Swt mengajak kita untuk berpikir dan menggunakan akal.
Pikiran melahirkan pengetahuan.Pengetahuan membentuk kebudayaan. Kebudayaan adalah keluhuran pikiran dari corak kehidupan yang sesuai dengan di bawah mana langitnya, di atas mana buminya.
Mengenal kebudayaan, berarti mengenal manusia dan segala peradabannya. Memahami kebudayaan berarti menghormati eskistensi manusia dengan segala kebiasaannya.
Bicara kebudayaan, sungguhlah luas adanya.
Bahasa merupakan salah satu produk budaya manusia. Bahasa mewarnai budaya. Tanpa bahasa, budaya lumpuh. Bahasa cermin kebudayaan suatu masyarakat. Ia menjadi salah satu identitas dari suatu masyarakat.
Yang saya gamangkan, bagaimana sekiranya bahasa ibu, bahasa Minangkabau lenyap atau punah digilas zaman.
Kita dapat menyimak, sebagian besar ibu ibu muda di berbagai pelosok nagari Minangkabau tak lagi menjadikan bahasa Minangkabau sebagai bahasa pengantar kepada anak anaknya.
Mereka memakai bahasa Indonesia Minang alias bahasa Indomi. Dibilang logat Melayu tidak pula. Dibilang bahasa Indonesia, tak juga. Seumpama, sekerat ular, sekeratnya lagi belut.
Pada akhirnya, lama lama bahasa Minang ini punah. Punah bahasa Minang, lenyap salah satu identitas kita sebagai orang Minangkabau.
Kearifan lokal anak anak generasi terkini cendrung menipis dikikis pisau tajam zaman yang makin menikam. Mereka , tampaknya sulit untuk paham arti dan makna pepatah. Tak lagi paham tentang kato nan ampek. Sehingga, sawah itu sudah kehilangan pematang.
Mereka jauh lebih paham akan bahasa "tiktok" atau bahasa gaul. Ini adalah salah satu musibah kebudayaan di Minangkabau.
Bagaimana menyikapi ini?
Mari kita lakukan Gerakan Bangga Berbahasa Minang.
Ayo gerakkan kembali kurikulum pengajaran budaya alam Minangkabau.
Saya sarankan, untuk melaksanakan pengajaran budaya alam Minangkabau, sebaiknya pihak pendidikan melakukan kerja sama dengan LKAAM. Biar ninik mamak yang langsung berdiri di depan menjadi gurunya.
Lakukan lomba lomba penulisan berbahasa Minang dan lomba pepatah adat antar pelajar SD hingga SMA.
Ayo, hidupkan kembali bahasa Minang di ranah bundo tacinto.
Langitku Indonesia, bumiku Minangkabau.
Kebudayaan itu adalah kita dalam ruang Bhinneka Tunggal Ika untuk Indonesia maju jaya .
***